Tampilkan postingan dengan label Juknis dan Artikel Teknik Sipil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Juknis dan Artikel Teknik Sipil. Tampilkan semua postingan
Perencanaa Bangunan Air (PDF)
17 Juni 2011
Pada saat memilih bangunan air, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, baik dari segi kreteria, tinjauan hidrolik, adanya sindementasi, ketersediaan material pembuatnya maupun dari segi ekonomis.
dalam buku ini akan dijelaskann petunjuk perencanaan pembangunan air.
Download Here
dalam buku ini akan dijelaskann petunjuk perencanaan pembangunan air.
Download Here
METODE PELAKSANAAN PEMBANGUNAN DERMAGA LANDING SHIP CT-I BESERTA FASILITAS PENUNJANGNYA
15 Maret 2011
I. UMUM.
Manajemen Proyek dari kontraktor dipercayakan kepada tenaga-tenaga ahli pilihan yang mempunyai pengalaman di bidang Pembangunan Dermaga dengan teknologi tinggi, dan telah berhasil menyelesaikan berbagai proyek sejenis dengan hasil yang memuaskan. Tenaga ahli pada tim proyek ini dipilih berdasarkan kebutuhan dan disesuaikan dengan tugas masing-masing, sehingga diharapkan dapat menjadi tim yang handal dalam menyelesaikan proyek ini
A. PERSIAPAN PEKERJAAN
1. Mobilisasi dan Demobilisasi
Yang dimaksud dengan mobilisasi dan demobilisasi dalam bill of quantities, mencakup antar jemput/mendatangkan : pekerja, pegawai, bahan-bahan bangunan, peralatan dan keperluan – keperluan insidental untuk melaksanakan seluruh pekerjan, untuk pindah didalam lokasi proyek dan pemindahan/ pembongkaran seluruh instalasi pada saat berakhirnya pekerjaan, termasuk :
Hal ini menjamin selesainya mobilisasi menurut pasal butir a) dan b) tersebut diatas dalam waktu maksimum 20 (dua puluh) hari setelah Konsultan Pengawas memberikan nota mulainya pekerjaan.
Untuk Lebih Jelasnya
Download Here
Manajemen Proyek dari kontraktor dipercayakan kepada tenaga-tenaga ahli pilihan yang mempunyai pengalaman di bidang Pembangunan Dermaga dengan teknologi tinggi, dan telah berhasil menyelesaikan berbagai proyek sejenis dengan hasil yang memuaskan. Tenaga ahli pada tim proyek ini dipilih berdasarkan kebutuhan dan disesuaikan dengan tugas masing-masing, sehingga diharapkan dapat menjadi tim yang handal dalam menyelesaikan proyek ini
A. PERSIAPAN PEKERJAAN
1. Mobilisasi dan Demobilisasi
Yang dimaksud dengan mobilisasi dan demobilisasi dalam bill of quantities, mencakup antar jemput/mendatangkan : pekerja, pegawai, bahan-bahan bangunan, peralatan dan keperluan – keperluan insidental untuk melaksanakan seluruh pekerjan, untuk pindah didalam lokasi proyek dan pemindahan/ pembongkaran seluruh instalasi pada saat berakhirnya pekerjaan, termasuk :
- Pengangkutan semua peralatan pembangunan ke lokasi proyek beserta pemasangannya, dimana alat-alat tersebut akan dipergunakan.
- Antar jemput : Staff, pegawai dan pekerja ke proyek.
- Pembongkaran dan pemindahan semua instalasi sementara, peralatan pembangunan, armada apung dan peralatan lainnya, sedemikian sehingga lokasi proyek bersih dan teratur kembali dan diterima baik oleh Konsultan Pengawas.
- Pemindahan dari lokasi proyek untuk staff, pegawai dan pekerjaan setelah proyek selesai.
Hal ini menjamin selesainya mobilisasi menurut pasal butir a) dan b) tersebut diatas dalam waktu maksimum 20 (dua puluh) hari setelah Konsultan Pengawas memberikan nota mulainya pekerjaan.
Untuk Lebih Jelasnya
Download Here
Contoh DED Jalan dan Jembatan
12 Maret 2011
MAKSUD, TUJUAN DAN SASARAN
2.1. Maksud
Memberikan kesimpulan teknis terhadap pembangunan Jalan Poros Balohan – Teluk Sabang
sehingga diharapkan akan didapatkan Tahapan Perencanaan Rinci yang meliputi : semua
pekerjaan survei yang diperlukan, sesuai dengan klasifikasi sebagai jalan utama, dan karakteristik
lalu lintas, perencanaan geometrik, dan perkerasan jalan.
2.2. Tujuan
Untuk menghasilkan dokumen perencanaan sebagai pelaksanaan konstruksi pembangunaan
Jalan Poros Balohan – Teluk Sabang.
2.3. Sasaran
Tersusunnya desain rinci dan spesifikasi yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dokumen
teknis dalam pelaksanaan tender dan pelaksanaan konstruksi
Download Here
2.1. Maksud
Memberikan kesimpulan teknis terhadap pembangunan Jalan Poros Balohan – Teluk Sabang
sehingga diharapkan akan didapatkan Tahapan Perencanaan Rinci yang meliputi : semua
pekerjaan survei yang diperlukan, sesuai dengan klasifikasi sebagai jalan utama, dan karakteristik
lalu lintas, perencanaan geometrik, dan perkerasan jalan.
2.2. Tujuan
Untuk menghasilkan dokumen perencanaan sebagai pelaksanaan konstruksi pembangunaan
Jalan Poros Balohan – Teluk Sabang.
2.3. Sasaran
Tersusunnya desain rinci dan spesifikasi yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dokumen
teknis dalam pelaksanaan tender dan pelaksanaan konstruksi
Download Here
Tabel E Spesifikasi Teknis Bangunan Gedung Pemerintah
22 Desember 2010
pada tabel ini dijelasakan Jarak Antar Bangunan dihitung berdasarkan apa, Ketinggian Bangunan, Ketinggian Langit-langit, Koefisien Dasar Bangunan, Koefisien Lantai Bangunan, Koefisien Dasar Hijau, Garis sempadan, dll
Download Here
Download Here
PERATURAN BANGUNAN /BUILDING REGULATION
PERATURAN BANGUNAN NASIONAL
NATIONAL BUILDING REGULATION
. PERATURAN BANGUNAN PROVINSI
PROVINCIAL BUILDING REGULATION
. PERATURAN BANGUNAN KABUPATEN/KOTA
KABUPATEN/KOTA BUILDING REGULATION
PERATURAN BANGUNAN /BUILDING REGULATION
. UNDANG-UNDANG NO 28 TAHUN 2002
BANGUNAN GEDUNG.
. KEPUTUSAN MENTERI PU NO 441/KPTS/1998
PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG
. KEPUTUSAN MENTERI KIMPRASWIL NO 332/KPTS/2002
PEDOMAN TEKNIS
PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA
. STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI)
. UNDANG-UNDANG NO 18 TAHUN 1999
JASA KONSTRUKSI
. PERATURAN PEMERINTAH NO 29 TAHUN 2000
PENYELENGGARAAN JASA KONSTRUKSI
. PERATURAN DAERAH PROVINSI TENTANG
RENCANA UMUN TATA RUANG PROVINSI
. PERATURAN DAERAH PROVINSI TENTANG
BANGUNAN GEDUNG DAN IJIN MENDIRIKAN BANGUNAN
. PERATURAN DAERAH KABUPATEN/KOTA TENTANG
RENCANA UMUM TATA RUANG KABUPATEN/KOTA
. PERATURAN DAERAH KABUPATEN/KOTA TENTANG
BANGUNAN GEDUNG DAN IJIN MENDIRIKAN BANGUNAN
Download Here
NATIONAL BUILDING REGULATION
. PERATURAN BANGUNAN PROVINSI
PROVINCIAL BUILDING REGULATION
. PERATURAN BANGUNAN KABUPATEN/KOTA
KABUPATEN/KOTA BUILDING REGULATION
PERATURAN BANGUNAN /BUILDING REGULATION
. UNDANG-UNDANG NO 28 TAHUN 2002
BANGUNAN GEDUNG.
. KEPUTUSAN MENTERI PU NO 441/KPTS/1998
PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG
. KEPUTUSAN MENTERI KIMPRASWIL NO 332/KPTS/2002
PEDOMAN TEKNIS
PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA
. STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI)
. UNDANG-UNDANG NO 18 TAHUN 1999
JASA KONSTRUKSI
. PERATURAN PEMERINTAH NO 29 TAHUN 2000
PENYELENGGARAAN JASA KONSTRUKSI
. PERATURAN DAERAH PROVINSI TENTANG
RENCANA UMUN TATA RUANG PROVINSI
. PERATURAN DAERAH PROVINSI TENTANG
BANGUNAN GEDUNG DAN IJIN MENDIRIKAN BANGUNAN
. PERATURAN DAERAH KABUPATEN/KOTA TENTANG
RENCANA UMUM TATA RUANG KABUPATEN/KOTA
. PERATURAN DAERAH KABUPATEN/KOTA TENTANG
BANGUNAN GEDUNG DAN IJIN MENDIRIKAN BANGUNAN
Download Here
Standar perencanaan ketahanan gempa untuk struktur bangunan gedung
1.1 Standar ini dimaksudkan sebagai pengganti Standar Nasional Indonesia SNI 03-1726-1989 dan untuk selanjutnya menjadi persyaratan minimum perencanaan ketahanan gempa untuk struktur gedung, kecuali untuk struktur bangunan yang ditentukan dalam
Pasal 1.2.
1.2 Syarat-syarat perencanaan struktur gedung tahan gempa yang ditetapkan dalam Standar ini tidak berlaku untuk bangunan sebagai berikut :
- Gedung dengan sistem struktur yang tidak umum atau yang masih memerlukan pembuktian tentang kelayakannya.
- Gedung dengan sistem isolasi landasan (base isolation) untuk meredam pengaruh gempa terhadap struktur atas.
- Bangunan Teknik Sipil seperti jembatan, bangunan air, dinding dan dermaga pelabuhan, anjungan lepas pantai dan bangunan non-gedung lainnya.
- Rumah tinggal satu tingkat dan gedung-gedung non-teknis lainnya.
1.3 Standar ini bertujuan agar struktur gedung yang ketahanan gempanya
direncanakan menurut Standar ini dapat berfungsi :
- menghindari terjadinya korban jiwa manusia oleh runtuhnya gedung akibat gempa yang kuat;
- membatasi kerusakan gedung akibat gempa ringan sampai sedang, sehingga masih dapat diperbaiki;
- membatasi ketidaknyamanan penghunian bagi penghuni gedung ketika terjadi gempa ringan sampai sedang;
- mempertahankan setiap saat layanan vital dari fungsi gedung.
Full Download
Download Here
Pasal 1.2.
1.2 Syarat-syarat perencanaan struktur gedung tahan gempa yang ditetapkan dalam Standar ini tidak berlaku untuk bangunan sebagai berikut :
- Gedung dengan sistem struktur yang tidak umum atau yang masih memerlukan pembuktian tentang kelayakannya.
- Gedung dengan sistem isolasi landasan (base isolation) untuk meredam pengaruh gempa terhadap struktur atas.
- Bangunan Teknik Sipil seperti jembatan, bangunan air, dinding dan dermaga pelabuhan, anjungan lepas pantai dan bangunan non-gedung lainnya.
- Rumah tinggal satu tingkat dan gedung-gedung non-teknis lainnya.
1.3 Standar ini bertujuan agar struktur gedung yang ketahanan gempanya
direncanakan menurut Standar ini dapat berfungsi :
- menghindari terjadinya korban jiwa manusia oleh runtuhnya gedung akibat gempa yang kuat;
- membatasi kerusakan gedung akibat gempa ringan sampai sedang, sehingga masih dapat diperbaiki;
- membatasi ketidaknyamanan penghunian bagi penghuni gedung ketika terjadi gempa ringan sampai sedang;
- mempertahankan setiap saat layanan vital dari fungsi gedung.
Full Download
Download Here
Airport Pavement Roughness with Nighttime Construction
17 Desember 2010
Surface elevation profiles were measured before and after overlay operations on runways at two commercial airports in the USA. Each airport had only one runway. All overlaying was done at night, with the airports opened for normal operations during the day. The profiles were measured with an inertial profiler having software compensation for accelerometer errors. Pavement surface elevations measured with normal surveying rod and level equipment are compared with the profiler elevation measurements for one of the runways. With the exception of some very long wavelength distortion in the profiler measurements, correspondence between the two different methods is good. The profiles were processed to provide measures of roughness from simulations of a straightedge, a California Profilograph, and the Boeing Bump Criteria. The roughness of the overlaid pavements is quantified and compared. Measurements of the vertical response of an instrumented B-727 aircraft on one of the runways are also presented. Transverse construction joints are shown to be significant contributors to the roughness of the pavements.
Download Here
Download Here
PENGARUH PENGGUNAAN MIKRO ASBUTON SEBAGAI BAHAN PENGISI (FILLER) TERHADAP DURABILITAS CAMPURAN HOT ROLLED ASPHALT (HRA)
8 Oktober 2010
Abstrak
Salah satu karakteristik yang penting dari campuran Hot Rolled Asphalt (HRA) adalah penggunaan gradasi timpang. Dalam gradasi timpang ini, penggunaan agregat ukuran sedang sangat sedikit, dan lebih terdiri dari campuran pasir, filler (bahan pengisi) dan aspal, dimana agregat kasar kemudian digabungkan. Kekuatan dari campuran HRA tidak didapat dari ikatan antar agregat kasar, tetapi dari campuran agregat halus, filler dan aspal.
Filler yang normal digunakan dalam campuran HRA adalah semen, tetapi semen terkadang sulit didapat dan harganya pun relatif mahal. Beberapa jenis material filler alternatif telah dicoba sebagai pengganti bahan filler konvensional, seperti bahan kapur bangunan dan lanau sungai, juga dicoba bahan abu terbang (fly ash) yang merupakan bahan buangan atau limbah padat dari pembangkit tenaga listrik.
Dalam penelitian ini material yang akan dicoba sebagai filler adalah mikro asbuton, yaitu asbuton yang telah diproses menjadi bubuk halus dan kering yang sebagian besar lolos saringan No. 200 sehingga secara teori partikel yang lolos ini dapat digunakan sebagai filler pada campuran aspal panas (hot mix). Pemilihan mikro asbuton sendiri dinilai tepat karena asbuton merupakan potensi dalam negeri dengan perkiraan cadangan lebih dari 300 juta ton, namun perkembangan teknologinya belum diminati secara luas dalam pembangunan jalan.
Untuk mengkaji ukuran potensi durabilitas campuran HRA dengan filler mikro asbuton, kriteria potensi durabilitas yang digunakan dalam penelitian ini dibagi atas tiga kelompok utama yakni: kriteria Karakteristik Dasar Campuran, Perendaman Standar Marshall (perendaman 1 hari pada suhu 60C), dan Perendaman Modifikasi Marshall (perendaman 0, 1, 4, 7, 14, 21 dan 28 hari pada suhu ruang). Spesifikasi gradasi HRA yang digunakan mengacu pada British Standards untuk lapis permukaan tipe C dengan tipe desain 40/20 dan ketebalan nominal lapisan 50 mm.
Kriteria Karakteristik Dasar Campuran menghasilkan nilai-nilai stabilitas, kelelahan, Marshall Quotient, persentase Rongga dalam Campuran (voids in the mix, VM), Rongga dalam Agregat (voids in the mineral aggregate, VA) dan Rongga Terisi Aspal. (voids filled with binder, VB). Perendaman Standar Marshall menggunakan kriteria Stabilitas Marshall Sisa (Marshall retained stability) dengan persyaratan yang diminta adalah suatu nilai yang lebih besar dari 75% seperti yang tercantum dalam SNI. Pengujian Perendaman Modifikasi Marshall dilakukan untuk mengukur potensi durabilitas dari campuran dengan menerapkan pengujian perendaman campuran pada suhu ruang dengan variasi lama perendaman 0, 1, 4, 7, 14, 21 dan 28 hari. Dari pengujian ini akan didapat Indeks Durabilitas Pertama (first durability index) dan Indeks Durabilitas Kedua (second durability index) yang secara praktis keduanya menyatakan persen kehilangan kekuatan yang dibobotkan pada satu hari.
Kata-kata kunci (keywords): mikro asbuton, filler, durabilitas, Hot Rolled Asphalt.
Novrizal
Mahasiswa S1 Jurusan Teknik Sipil
Institut Teknologi Bandung
Selvy Christinadewy
Mahasiswa S1 Jurusan Teknik Sipil
Institut Teknologi Bandung
Dr. Ir. Bambang Ismanto S.
Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil
Institut Teknologi Bandung
Ir. Sony S. Wibowo, MT
Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil
Institut Teknologi Bandung
Category : Juknis dan Artikel Teknik Sipil
Size : 803 Kb
Files: : Ms Word
Download Here
Salah satu karakteristik yang penting dari campuran Hot Rolled Asphalt (HRA) adalah penggunaan gradasi timpang. Dalam gradasi timpang ini, penggunaan agregat ukuran sedang sangat sedikit, dan lebih terdiri dari campuran pasir, filler (bahan pengisi) dan aspal, dimana agregat kasar kemudian digabungkan. Kekuatan dari campuran HRA tidak didapat dari ikatan antar agregat kasar, tetapi dari campuran agregat halus, filler dan aspal.
Filler yang normal digunakan dalam campuran HRA adalah semen, tetapi semen terkadang sulit didapat dan harganya pun relatif mahal. Beberapa jenis material filler alternatif telah dicoba sebagai pengganti bahan filler konvensional, seperti bahan kapur bangunan dan lanau sungai, juga dicoba bahan abu terbang (fly ash) yang merupakan bahan buangan atau limbah padat dari pembangkit tenaga listrik.
Dalam penelitian ini material yang akan dicoba sebagai filler adalah mikro asbuton, yaitu asbuton yang telah diproses menjadi bubuk halus dan kering yang sebagian besar lolos saringan No. 200 sehingga secara teori partikel yang lolos ini dapat digunakan sebagai filler pada campuran aspal panas (hot mix). Pemilihan mikro asbuton sendiri dinilai tepat karena asbuton merupakan potensi dalam negeri dengan perkiraan cadangan lebih dari 300 juta ton, namun perkembangan teknologinya belum diminati secara luas dalam pembangunan jalan.
Untuk mengkaji ukuran potensi durabilitas campuran HRA dengan filler mikro asbuton, kriteria potensi durabilitas yang digunakan dalam penelitian ini dibagi atas tiga kelompok utama yakni: kriteria Karakteristik Dasar Campuran, Perendaman Standar Marshall (perendaman 1 hari pada suhu 60C), dan Perendaman Modifikasi Marshall (perendaman 0, 1, 4, 7, 14, 21 dan 28 hari pada suhu ruang). Spesifikasi gradasi HRA yang digunakan mengacu pada British Standards untuk lapis permukaan tipe C dengan tipe desain 40/20 dan ketebalan nominal lapisan 50 mm.
Kriteria Karakteristik Dasar Campuran menghasilkan nilai-nilai stabilitas, kelelahan, Marshall Quotient, persentase Rongga dalam Campuran (voids in the mix, VM), Rongga dalam Agregat (voids in the mineral aggregate, VA) dan Rongga Terisi Aspal. (voids filled with binder, VB). Perendaman Standar Marshall menggunakan kriteria Stabilitas Marshall Sisa (Marshall retained stability) dengan persyaratan yang diminta adalah suatu nilai yang lebih besar dari 75% seperti yang tercantum dalam SNI. Pengujian Perendaman Modifikasi Marshall dilakukan untuk mengukur potensi durabilitas dari campuran dengan menerapkan pengujian perendaman campuran pada suhu ruang dengan variasi lama perendaman 0, 1, 4, 7, 14, 21 dan 28 hari. Dari pengujian ini akan didapat Indeks Durabilitas Pertama (first durability index) dan Indeks Durabilitas Kedua (second durability index) yang secara praktis keduanya menyatakan persen kehilangan kekuatan yang dibobotkan pada satu hari.
Kata-kata kunci (keywords): mikro asbuton, filler, durabilitas, Hot Rolled Asphalt.
Novrizal
Mahasiswa S1 Jurusan Teknik Sipil
Institut Teknologi Bandung
Selvy Christinadewy
Mahasiswa S1 Jurusan Teknik Sipil
Institut Teknologi Bandung
Dr. Ir. Bambang Ismanto S.
Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil
Institut Teknologi Bandung
Ir. Sony S. Wibowo, MT
Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil
Institut Teknologi Bandung
Category : Juknis dan Artikel Teknik Sipil
Size : 803 Kb
Files: : Ms Word
Download Here
PENGARUH FAKTOR KEKUATAN (MODULUS ELASTISITAS) BAHAN TERHADAP BESARNYA NILAI KETEBALAN LAPIS TAMBAHAN (OVERLAY)
2 Oktober 2010
Abstrak : Perancangan lapis tambahan (overlay design) merupakan ketebalan dari aspal atau lapisan butir yang akan melapisi perkerasan yang ada, sebagai usaha dalam mengatasi penurunan kekuatan perkerasan serta melindungi struktur selama periode desain. Selama beberapa tahun, dalam menentukan besarnya lapis tambahan aspal untuk perkerasan lentur, didasarkan pada besarnya lapis tambahan aspal untuk perkerasan lentur, didasarkan pada besarnya lendutan yang terjadi. Data lendutan tersebut didapat dari pengukuran dengan alat Benkelman Beam pada suatu standar pembebanan tertentu. Sedangkan jalan yang diambil dalam studi kasus ini adalah salah satu jalan di Propinsi Kalimantan Barat, yaitu jalan Tanjung – Balai Karangan. Berdasarkan beberapa prosedur perencanaan lapis tambahan, seperti misalnya dengan Metode Empirik dengan prosedur dari Bina Marga memberikan hasil (ketebalan overlay) yang sangat bervariasi, selain itu juga digunakan metode dengan cara kekuatan elemen bahan/material, khususnya dengan menonjolkan angka Modulus Elastisitas bahan atau lebih dikenal dengan Metode Mekanik dengan prosedur dari TRRL yang memberikan hasil yang relatif seragam dan lebih besar dari cara empirik. Untuk itu penelitian ini dimaksudkan untuk melihat sejauh mana perbedaan hasil dari kedua metode tersebut dan bagaimana peranan nilai kekuatan bahan secara individu (modulus elastisitas bahan) terhadap ketebalan lapis tambahan (overlay).
Dari beberapa seksi jalan yang dibagi, maka didapat hasil untuk prosedur Bina Marga dari seksi I – V berturut-turut tebal overlaynya 3 cm, 7 cm, 8 cm, 11 cm, 8 cm, sedangkan untuk prosedur TRRL berturut-turut didapat hasil 8 cm, 10 cm, 11 cm, 12 cm, hal ini sebagai dampak dari beberapa perbedaan parameter yang digunakan. Sedangkan tingkat keefektifan dari setiap material overlay dalam mereduksi defleksi dapat diukur dengan membandingkan tebalnya dengan tebal dari material standar yang diperlukan untuk mendapatkan hasil yang sama, dalam hal ini yang dimaksud adalah granular material untuk base CGRA. Perbandingan dari masing-masing ketebalan disebut sebagai “Faktor Ekivalen” (FE) dari material overlay. Dalam hal ini TRRL menggunakan faktor ekivalen berkisar antara 3.0 – 4.0, sedangkan untuk Bina Marga menggunakan angka kisaran 2.0 – 3.0, sehingga besarnya faktor ekivalen ini juga mempengaruhi tebal overlay yang dihasilkan TRRL lebih besar dari Bina Marga.
IR. Joewono Prasetijo, Dipl. TREND,MSc Rini
Laboratorium Penelitian Jalan
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil
Universitas Tanjungpura (UNTAN)
Handayani, ST
Graduate Student
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil
Universitas Tanjungpura (UNTAN)
Full Dokument Download Disini
APLIKASI PEMBEBANAN ELASTIS DENGAN METODA CAPPED MATRIX DI KOTAMADYA BANDUNG
Abstrak
Pembebanan yang umum dilakukan dalam perencanaan transportasi adalah pembebanan inelastis, dengan asumsi permintaan perjalanan tetap ( fixed demand) atau jumlah total perjalanan dari zona asal i ke zona tujuan j per satuan waktu (Tid) akan dibebankan seluruhnya pada ruas jaringan jalan. Hal itu cukup realistis pada daerah dengan tingkat pertumbuhan kemacetan rendah, tetapi pada daerah dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi akan menyebabkan terjadinya beban yang jauh melebihi kapasitas ruas tersebut (over assignment)
Kenyataannya, pengguna jalan akan menanggapi keterbatasan kapasitas jaringan dengan mengubah perilakunya. Hal itu bisa dilakukan dengan memajukan atau memundurkan waktu berangkat, memilih rute lain atau bahkan mengubah tujuan perjalanan. Berubahnya perilaku pengguna jalan ini akan meyebabkan perubahan pada matrix permintaan perjalanan. Inilah yang menyebabkan asumsi permintaan tetap untuk setiap pembebanan menjadi kurang realistis.
Dalam proses pembebanan, perubahan perilaku pengguna jalan tersebut dapat didekati dengan pembebanan elastis yang meliputi dua metode yaitu Pembebanan dengan kurva permintaan (untuk mengakomodir perubahan perilaku pengguna jalan karena pertambahan biaya perjalanan) dan metode pemangkasan matriks perjalanan mengakomodir perubahan perilaku pengguna jalan sebagai tanggapan terhadap batasan kapasitas.
Sejauh mana metoda pembebanan elastis dengan pemangkasan matrik (capped matrix) tersebut dapat diterapkan di kotamadya Bandung merupakan tujuan utama dari studi ini yang dilakukan dengan membandingkannya terhadap arus lalu lintas hasil survai primer tahun 1999. Kemudian dianalisis kinerja jaringan yang di representasikan oleh model tersebut.
Studi ini dilakukan di kotamadya Bandung dan sebagian kabupaten (145 zona), yang meliputi jaringan jalan arteri, kolektor dan sebagian lokal. Hasil yang didapat menunjukkan pengaruh yang besar penggunaan capped matrix terhadap kinerja jaringan, yang ditunjukkan dengan nilai RMSE dan R2 serta perubahan kinerja jaringan.
Sylvia Indriany .ST
Rekayasa Transportasi
Institut Teknologi Bandung
Gd. Lab. Tek. I Lantai 2
Jl. Ganesha 10 Bandung – 40132
Ir.Ade Sjafruddin MSc.,Ph.D
Staf Pengajar dan peneliti
Rekayasa Transportasi
Institut Teknologi Bandung
Gd. Lab. Tek. I Lantai 2
Ir. Ofyar Z. Tamin MSc.,Ph.D
Staf pengajar dan peneliti
Rekayasa Transportasi
Institut Teknologi Bandung
Gd. Lab. Tek. I Lantai 2
Full Download Dokumen Disini
Pembebanan yang umum dilakukan dalam perencanaan transportasi adalah pembebanan inelastis, dengan asumsi permintaan perjalanan tetap ( fixed demand) atau jumlah total perjalanan dari zona asal i ke zona tujuan j per satuan waktu (Tid) akan dibebankan seluruhnya pada ruas jaringan jalan. Hal itu cukup realistis pada daerah dengan tingkat pertumbuhan kemacetan rendah, tetapi pada daerah dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi akan menyebabkan terjadinya beban yang jauh melebihi kapasitas ruas tersebut (over assignment)
Kenyataannya, pengguna jalan akan menanggapi keterbatasan kapasitas jaringan dengan mengubah perilakunya. Hal itu bisa dilakukan dengan memajukan atau memundurkan waktu berangkat, memilih rute lain atau bahkan mengubah tujuan perjalanan. Berubahnya perilaku pengguna jalan ini akan meyebabkan perubahan pada matrix permintaan perjalanan. Inilah yang menyebabkan asumsi permintaan tetap untuk setiap pembebanan menjadi kurang realistis.
Dalam proses pembebanan, perubahan perilaku pengguna jalan tersebut dapat didekati dengan pembebanan elastis yang meliputi dua metode yaitu Pembebanan dengan kurva permintaan (untuk mengakomodir perubahan perilaku pengguna jalan karena pertambahan biaya perjalanan) dan metode pemangkasan matriks perjalanan mengakomodir perubahan perilaku pengguna jalan sebagai tanggapan terhadap batasan kapasitas.
Sejauh mana metoda pembebanan elastis dengan pemangkasan matrik (capped matrix) tersebut dapat diterapkan di kotamadya Bandung merupakan tujuan utama dari studi ini yang dilakukan dengan membandingkannya terhadap arus lalu lintas hasil survai primer tahun 1999. Kemudian dianalisis kinerja jaringan yang di representasikan oleh model tersebut.
Studi ini dilakukan di kotamadya Bandung dan sebagian kabupaten (145 zona), yang meliputi jaringan jalan arteri, kolektor dan sebagian lokal. Hasil yang didapat menunjukkan pengaruh yang besar penggunaan capped matrix terhadap kinerja jaringan, yang ditunjukkan dengan nilai RMSE dan R2 serta perubahan kinerja jaringan.
Sylvia Indriany .ST
Rekayasa Transportasi
Institut Teknologi Bandung
Gd. Lab. Tek. I Lantai 2
Jl. Ganesha 10 Bandung – 40132
Ir.Ade Sjafruddin MSc.,Ph.D
Staf Pengajar dan peneliti
Rekayasa Transportasi
Institut Teknologi Bandung
Gd. Lab. Tek. I Lantai 2
Ir. Ofyar Z. Tamin MSc.,Ph.D
Staf pengajar dan peneliti
Rekayasa Transportasi
Institut Teknologi Bandung
Gd. Lab. Tek. I Lantai 2
Full Download Dokumen Disini
PENGARUH STABILISASI SEMEN TERHADAP BIAYA KONSTRUKSI PERKERASAN LENTUR (FLEXIBLE PAVEMENT) DI PANDAAN JAWA TIMUR
Abstrak
Pembangunan prasarana jalan memerlukan biaya yang cukup besar, bahkan bisa menjadi semakin besar bila harus melewati tanah yang kurang baik seperti di lokasi jalan masuk Taman Dayu Pandaan ini. Tanah dasar (sub grade) tersebut mempunyai CBR = 2,8% berbutir halus 76% > 50% lolos saringan no. 200, batas cair (LL) = 57 % dan Indeks Plastis (PILIH DAN KLIK) 32,96%. Menurut klasifikasi USCS termasuk CH soil (lempung plastisitas tinggi). Oleh karena itu diperlukan stabilisasi kimia seperti semen untuk meningkatkan kekuatan tanah dasar (sub grade).
Penambahan bahan kimia tersebut jelas membutuhkan biaya, karena itu yang menjadi permasalahan adalah ekonomis tidak penambahan bahan kimia tersebut. Untuk itu dilakukan perhitungan kebutuhan tebal Perkerasan sebelum dan sesudah dilakukan stabilisasi kimia seperti semen, yang hasilnya terutama biaya dibandingkan satu hari. Perhitungan-perhitungan menggunakan metode analisa komponen SKBI 2.3.2.6. 1987.
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa semakin banyak kadar semen, semakin meningkatkan biaya pembangunan. Besar peningkatan biaya berturut-turut adalah 21,42%, 12,54%, 7,01% untuk masing-masing kadar semen 4%, 8%, 10%. Penurunan biaya relatif sedikit yakni sebesar 5,81% pada kadar semen 6%. Naiknya biaya pembangunan disebabnya adanya persyaratan tebal minimum subbase (D3) sebesar 10 cm bertambah tebalnya lapisan tanah + bahan kimia karena meningkatnya CBR sub grade.
Ir. Djoko Sulistiono
Staf Pengajar Program Diploma
Jurusan Teknik Sipil
FTSP Institut Teknologi Surabaya
Ir. Sulchan Arifin, M.Eng
Staf Pengajar Program Diploma
Jurusan Teknik Sipil
FTSP Institut Teknologi Surabaya
Full Artikel Download Disini
Pembangunan prasarana jalan memerlukan biaya yang cukup besar, bahkan bisa menjadi semakin besar bila harus melewati tanah yang kurang baik seperti di lokasi jalan masuk Taman Dayu Pandaan ini. Tanah dasar (sub grade) tersebut mempunyai CBR = 2,8% berbutir halus 76% > 50% lolos saringan no. 200, batas cair (LL) = 57 % dan Indeks Plastis (PILIH DAN KLIK) 32,96%. Menurut klasifikasi USCS termasuk CH soil (lempung plastisitas tinggi). Oleh karena itu diperlukan stabilisasi kimia seperti semen untuk meningkatkan kekuatan tanah dasar (sub grade).
Penambahan bahan kimia tersebut jelas membutuhkan biaya, karena itu yang menjadi permasalahan adalah ekonomis tidak penambahan bahan kimia tersebut. Untuk itu dilakukan perhitungan kebutuhan tebal Perkerasan sebelum dan sesudah dilakukan stabilisasi kimia seperti semen, yang hasilnya terutama biaya dibandingkan satu hari. Perhitungan-perhitungan menggunakan metode analisa komponen SKBI 2.3.2.6. 1987.
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa semakin banyak kadar semen, semakin meningkatkan biaya pembangunan. Besar peningkatan biaya berturut-turut adalah 21,42%, 12,54%, 7,01% untuk masing-masing kadar semen 4%, 8%, 10%. Penurunan biaya relatif sedikit yakni sebesar 5,81% pada kadar semen 6%. Naiknya biaya pembangunan disebabnya adanya persyaratan tebal minimum subbase (D3) sebesar 10 cm bertambah tebalnya lapisan tanah + bahan kimia karena meningkatnya CBR sub grade.
Ir. Djoko Sulistiono
Staf Pengajar Program Diploma
Jurusan Teknik Sipil
FTSP Institut Teknologi Surabaya
Ir. Sulchan Arifin, M.Eng
Staf Pengajar Program Diploma
Jurusan Teknik Sipil
FTSP Institut Teknologi Surabaya
Full Artikel Download Disini
ENGINEERING PROPERTIES BAHAN PERKERASAN JALAN STUDI KASUS GRASBERG HAUL ROAD, TIMIKA, PAPUA
Abstrak
Ketersediaan agregat adalah salah satu aspek penting yang perlu dipertimbangan dalam perancangan perkerasan jalan. Ketersediaan ini terkait dengan kualitas, kuantitas dan biaya eksplorasi yang rendah. Pada konstruksi Grasberg Haul Road, PT Freeport Indonesia telah menggunakan sumber material untuk bahan perkerasan jalan. Pada lokasi jalan tersebut, tersedia sumber batuan untuk agregat, tetapi sayangnya, umumnya batuan tersebut termasuk dalam kategori batuan sedimen yang umumnya kurang baik digunakan sebagai bahan perkerasan jalan. Tujuan penelitian ini ada untuk melihat engineering properties dari material yang digunakan pada konstruksi Grasberg Haul Road. Penelitian ini dilakukan dalam sekala laboratorium dan analisa yang dilakukan berdasarkan perbdaningan antara hasil pengujian dengan spesifikasi material untuk perkerasan jalan. Sampel yang dikirimkan untuk diuji di laboratorium dibagi atas empat kelompok, yaitu Marble (dengan kode RQM), Diorite (dengan kode DIO), dan dua kelompok Limestone, dengan kode masing-masing RQ1 dan RQ2. Jenis tes yang dilakukan adalah Los Angeles Abrasion Test, Aggregate Impact Value, Aggregate Crushing Value, Berat Jenis, Kadar Air, Pelapukan (Soundness), dan kelekatan terhadap aspal. Dari empat kelompok yang diuji dan dianalisa, didapat bahwa hanya batuan limestone dengan kode RQ2 saja yang dapat digunakan sebagai bahan perkerasan jalan.
Ir. Sony S Wibowo, MT
Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil
Institut Teknologi Bandung
Jalan Ganesha 10 Bandung 40132
Telp. 62-22-250 2350; fax. 62-251 2395
sswibowo@trans.si.itb.ac.id
Ir. Bambang Ismanto Siswosoebrotho, MSc., PhD.
Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipi
Institut Teknologi Bandung
Jalan Ganesha 10 Bandung 40132
Telp. 62-22-250 2350; fax. 62-251 2395
bis@trans.si.itb.ac.id
Full Dokumen Download Disini
Ketersediaan agregat adalah salah satu aspek penting yang perlu dipertimbangan dalam perancangan perkerasan jalan. Ketersediaan ini terkait dengan kualitas, kuantitas dan biaya eksplorasi yang rendah. Pada konstruksi Grasberg Haul Road, PT Freeport Indonesia telah menggunakan sumber material untuk bahan perkerasan jalan. Pada lokasi jalan tersebut, tersedia sumber batuan untuk agregat, tetapi sayangnya, umumnya batuan tersebut termasuk dalam kategori batuan sedimen yang umumnya kurang baik digunakan sebagai bahan perkerasan jalan. Tujuan penelitian ini ada untuk melihat engineering properties dari material yang digunakan pada konstruksi Grasberg Haul Road. Penelitian ini dilakukan dalam sekala laboratorium dan analisa yang dilakukan berdasarkan perbdaningan antara hasil pengujian dengan spesifikasi material untuk perkerasan jalan. Sampel yang dikirimkan untuk diuji di laboratorium dibagi atas empat kelompok, yaitu Marble (dengan kode RQM), Diorite (dengan kode DIO), dan dua kelompok Limestone, dengan kode masing-masing RQ1 dan RQ2. Jenis tes yang dilakukan adalah Los Angeles Abrasion Test, Aggregate Impact Value, Aggregate Crushing Value, Berat Jenis, Kadar Air, Pelapukan (Soundness), dan kelekatan terhadap aspal. Dari empat kelompok yang diuji dan dianalisa, didapat bahwa hanya batuan limestone dengan kode RQ2 saja yang dapat digunakan sebagai bahan perkerasan jalan.
Ir. Sony S Wibowo, MT
Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil
Institut Teknologi Bandung
Jalan Ganesha 10 Bandung 40132
Telp. 62-22-250 2350; fax. 62-251 2395
sswibowo@trans.si.itb.ac.id
Ir. Bambang Ismanto Siswosoebrotho, MSc., PhD.
Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipi
Institut Teknologi Bandung
Jalan Ganesha 10 Bandung 40132
Telp. 62-22-250 2350; fax. 62-251 2395
bis@trans.si.itb.ac.id
Full Dokumen Download Disini
MENINGKATKAN MUTU ASPAL DI PERKERASAN JALAN YANG TELAH LAPUK DENGAN CARA DINGIN
RINGKASAN
Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa Aspal di perkerasan jalan makin lama makin turun mutunya akibat dari proses oksidasi dan polimerisasi. Hal ini ditunjang dengan kenyataan bahwa Indonesia terletak didaerah Tropis, sehingga faktor cuaca dapat memicu terjadinya pelapukan aspal, disamping faktor-faktor penyebab lainnya. Meningkatkan mutu aspal di perkerasan jalan ada dua cara yaitu: a). dengan cara pelaburan dengan aspal atau dengan aspal emulsi yang dicampur dengan bahan peremaja apabila kondisi kerusakan berupa retak halus yang umumnya disebut surface dressing, b). dengan cara penggarukan kemudian ditambah dengan bahan additive, dan atau dengan ditambah aspal baru serta ditambah agregat baru yang umum disebut daur ulang (recycling). Dari hasil penelitian, cara pelaburan dapat meningkatkan mutu aspal di perkerasan jalan dari penetrasi aspal 10 - 11 menjadi 33 – 35 dan daktilitas aspal dari 14 -15 cm menjadi 140 cm sehingga perkerasan dapat bertahan selama 2 tahun, demikian juga dengan metoda daur ulang cara dingin (cold mix) perkerasan dapat tahan lebih dari 4 tahun pada lalu lintas sedang.
Tjitjik Wasiah Suroso
Puslitbang Jalan dan Jembatan
Jl. A.H. Nasution No.264 Bandung
E-mail : tjitjiksuroso@yahoo.com
Diterima : 14 Januari 2009; Disetujui : 20 April 2009
Type | PDF
Download Full Dokumen
Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa Aspal di perkerasan jalan makin lama makin turun mutunya akibat dari proses oksidasi dan polimerisasi. Hal ini ditunjang dengan kenyataan bahwa Indonesia terletak didaerah Tropis, sehingga faktor cuaca dapat memicu terjadinya pelapukan aspal, disamping faktor-faktor penyebab lainnya. Meningkatkan mutu aspal di perkerasan jalan ada dua cara yaitu: a). dengan cara pelaburan dengan aspal atau dengan aspal emulsi yang dicampur dengan bahan peremaja apabila kondisi kerusakan berupa retak halus yang umumnya disebut surface dressing, b). dengan cara penggarukan kemudian ditambah dengan bahan additive, dan atau dengan ditambah aspal baru serta ditambah agregat baru yang umum disebut daur ulang (recycling). Dari hasil penelitian, cara pelaburan dapat meningkatkan mutu aspal di perkerasan jalan dari penetrasi aspal 10 - 11 menjadi 33 – 35 dan daktilitas aspal dari 14 -15 cm menjadi 140 cm sehingga perkerasan dapat bertahan selama 2 tahun, demikian juga dengan metoda daur ulang cara dingin (cold mix) perkerasan dapat tahan lebih dari 4 tahun pada lalu lintas sedang.
Tjitjik Wasiah Suroso
Puslitbang Jalan dan Jembatan
Jl. A.H. Nasution No.264 Bandung
E-mail : tjitjiksuroso@yahoo.com
Diterima : 14 Januari 2009; Disetujui : 20 April 2009
Type | PDF
Download Full Dokumen
PEDOMAN PELAKSANAAN Peningkatan Infrastruktur Perdesaan
1 Oktober 2010
Salah satu masalah yang dihadapi dalam peningkatan ekonomi lokal adalah kurang tersedianya infrastruktur yang memadai, terutama di daerah perdesaan. Kondisi pelayanan infrastruktur
perdesaaan umumnya masih kurang, hal ini terlihat dari sebagian besar penduduk di desa
tertinggal harus menempuh jarak sejauh 6-10 km ke pusat pemasaran (terutama pusat
kecamatan), bahkan di desa lainnya penduduk harus menempuh jarak lebih dari 10 km dengan
kondisi jalan yang memprihatinkan. Penduduk yang terlayani air minum perpipaan perdesaan
masih sangat rendah, selebihnya masih mengambil langsung dari sumber air yang belum
terlindungi. Sementara itu, banyak petani di desa tertinggal memiliki luas lahan pertanian kurang
dari 0,5 ha (lahan marjinal). Dengan kondisi tersebut maka dibutuhkan strategi penanganan
penyediaan infrastruktur perdesaan yang dapat mendukung terjaminnya peningkatan dan
keberlanjutan kegiatan perekonomian di perdesaan.
Untuk menanggulangi permasalahan kemiskinan di perdesaan, pemerintah telah mencanangkan
program revitalisasi pertanian dan pembangunan dengan pemenuhan kebutuhan pendukung
produksi (khususnya pertanian), pendukung pasca produksi (khususnya pemasaran), dan
pemenuhan kebutuhan dasar petani. Pada tahun 2005, pemerintah melalui Departemen
Pekerjaan Umum, melaksanakan Program Kompensasi Pengurangan Subsidi-Bahan Bakar
Minyak bidang Infrastruktur Perdesaan (PKPS-BBM IP). Program tersebut telah berhasil
meningkatkan akses masyarakat miskin kepada infrastruktur perdesaan dan secara tidak
langsung telah meningkatkan kegiatan perekonomian di perdesaan.
Untuk Lebih Jelasnya Download Disini
perdesaaan umumnya masih kurang, hal ini terlihat dari sebagian besar penduduk di desa
tertinggal harus menempuh jarak sejauh 6-10 km ke pusat pemasaran (terutama pusat
kecamatan), bahkan di desa lainnya penduduk harus menempuh jarak lebih dari 10 km dengan
kondisi jalan yang memprihatinkan. Penduduk yang terlayani air minum perpipaan perdesaan
masih sangat rendah, selebihnya masih mengambil langsung dari sumber air yang belum
terlindungi. Sementara itu, banyak petani di desa tertinggal memiliki luas lahan pertanian kurang
dari 0,5 ha (lahan marjinal). Dengan kondisi tersebut maka dibutuhkan strategi penanganan
penyediaan infrastruktur perdesaan yang dapat mendukung terjaminnya peningkatan dan
keberlanjutan kegiatan perekonomian di perdesaan.
Untuk menanggulangi permasalahan kemiskinan di perdesaan, pemerintah telah mencanangkan
program revitalisasi pertanian dan pembangunan dengan pemenuhan kebutuhan pendukung
produksi (khususnya pertanian), pendukung pasca produksi (khususnya pemasaran), dan
pemenuhan kebutuhan dasar petani. Pada tahun 2005, pemerintah melalui Departemen
Pekerjaan Umum, melaksanakan Program Kompensasi Pengurangan Subsidi-Bahan Bakar
Minyak bidang Infrastruktur Perdesaan (PKPS-BBM IP). Program tersebut telah berhasil
meningkatkan akses masyarakat miskin kepada infrastruktur perdesaan dan secara tidak
langsung telah meningkatkan kegiatan perekonomian di perdesaan.
Untuk Lebih Jelasnya Download Disini
Jukni Pipa
Penyedia Jasa Pengadaan harus menyediakan dan menyertakan semua pipa dan fitting, valve, coupling, meter, mur, baut, gasket, material penyambung dan bahan pelengkap sebagaimana dirinci dalam Daftar Kualitas dan Bahan atau dalam gambar / drawing.
Penyedia Jasa Pengadaan harus menyediakan perpipaan dari semua material sebagaimana dirinci disini dan ditunjukkan dalam daftar kuantitas bahan. Semua pipa, fitting, valve dan perlengkapan lainnya harus sesuai dengan untuk pemakaian di daerah tropis, beriklim lembab dan bersuhu udara 32o C. Tekanan kerja normal tidak akan lebih dari 8 bar dan uji tekanan di lapangan tidak lebih dari 10 bar.
Penyedia Jasa Pengadaan harus menyediakan suatu affidavit (Sertifikat Jaminan Barang) dari pabrik pembuat yang menyatakan bahwa barang tersebut sesuai dengan kebutuhan yang dirinci dalam spesifikasi teknis. Penyedia Jasa Pengadaan juga harus menyampaikan tentang laporan hasil uji kimiawi dan fisik yang telah dilakukan di pabrik dan berlaku untuk semua jenis barang.
REFERENSI STANDARD
Referensi pada standard dalam dokumen lelang ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran mengenai jenis dan kualitas material yang diminta.
Semua material yang ditawarkan harus produksi dalam negeri dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Bila ternyata belum ada SNI untuk produk tertentu atau belum dibuat di dalam negeri, maka yang ditawarkan dapat menggunakan standard lain, dengan syarat bahwa kualitas keseluruhan sekurang-kurangnya sama dengan apa yang ditetapkan dalam dokumen lelang ini.
Semua material yang dikirim harus seratus persen baru (bukan material bekas), dalam keadaan baik dan memenuhi syarat spesifikasi teknis yang ditentukan.
Barang atau peralatan yang di produksi di dalam negeri atau berasal dari luar negeri dan sudah diatur dalam SNI maka barang/peralatan tersebut wajib memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI).
Untuk Lebih Jelasnya Download Disini
Penyedia Jasa Pengadaan harus menyediakan perpipaan dari semua material sebagaimana dirinci disini dan ditunjukkan dalam daftar kuantitas bahan. Semua pipa, fitting, valve dan perlengkapan lainnya harus sesuai dengan untuk pemakaian di daerah tropis, beriklim lembab dan bersuhu udara 32o C. Tekanan kerja normal tidak akan lebih dari 8 bar dan uji tekanan di lapangan tidak lebih dari 10 bar.
Penyedia Jasa Pengadaan harus menyediakan suatu affidavit (Sertifikat Jaminan Barang) dari pabrik pembuat yang menyatakan bahwa barang tersebut sesuai dengan kebutuhan yang dirinci dalam spesifikasi teknis. Penyedia Jasa Pengadaan juga harus menyampaikan tentang laporan hasil uji kimiawi dan fisik yang telah dilakukan di pabrik dan berlaku untuk semua jenis barang.
REFERENSI STANDARD
Referensi pada standard dalam dokumen lelang ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran mengenai jenis dan kualitas material yang diminta.
Semua material yang ditawarkan harus produksi dalam negeri dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Bila ternyata belum ada SNI untuk produk tertentu atau belum dibuat di dalam negeri, maka yang ditawarkan dapat menggunakan standard lain, dengan syarat bahwa kualitas keseluruhan sekurang-kurangnya sama dengan apa yang ditetapkan dalam dokumen lelang ini.
Semua material yang dikirim harus seratus persen baru (bukan material bekas), dalam keadaan baik dan memenuhi syarat spesifikasi teknis yang ditentukan.
Barang atau peralatan yang di produksi di dalam negeri atau berasal dari luar negeri dan sudah diatur dalam SNI maka barang/peralatan tersebut wajib memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI).
Untuk Lebih Jelasnya Download Disini
Langganan:
Postingan (Atom)
Situs Download dan Share Video Gratis
Free Video donwload and Upload
Blip.tv VideoEgg Dailymotion YouTube Veoh Google Video Grouper Jumpcut AOL Eyespot Addictingclips, BallOfDirt Blastrop Blinkx Bolt Break CastPost Clipfish ClipShack Crunchyroll Current TV Dabble Daum DropShots Eefoof EngageMedia Evtv1 ExpertVillage Filecow FlickDrop Fligz Flixya Flurl GodTube Gofish
GUBA HomeMovie iFilm JibJab LiveVideo Lulu TV ManiaTV Metacafe Motionbox
MSN Soapbox Myspace MyVideo OneWorldTV Openvlog Ourmedia Pandora TV
Panjea Peekvid Phanfare Pickle Putfile Revver SceneMaker Sharkle Stage6 Sumo TheVideoSense Tudou Twango UVU Video Sharing Veoh Video Webtown VidiLife Vimeo vMix Vobbo Vodpod Vsocial Webshots Woomu Yikers You are ZippyVideos zooppa
Entri Populer
- Program Untuk Menghitung Beton
- 30 Best Gun In The World Wallpapers
- mini-KMS_Activator_v1.053. for Offfice 2010
- CONTOH FORMAT LAPORAN KONSULTAN
- Encrypting and Password Protecting Fles and Folders.
- Contoh KAK Aplikasi Sistem Akuntansi BLU
- Fire Regulation, Standards and Codes
- Download gambar gorong-gorong kotak (Cad)
- Download Naruto Shippuden Chapter 509
- LAMPIRAN IVB - JASA KONSULTANSI - PERORANGAN